Jumat, 05 September 2014

Bansos dan Cerita pencabutan Bintang Mahaputra untuk DN Aidit


Cerita pencabutan Bintang Mahaputra untuk DN Aidit
Desakanencabutan Bintang Mahaputra Adipradana untuk Menteri ESDM Jero Wacik dan Menteri Agama Suryadharma Ali, yang terlibat korupsi, terus disuarakan. Sebab, tak pantas tanda kehormatan bangsa tersemat di dada para terduga penggasak uang negara.

Ketua CC PKI Dipa Nusantara (DN) Aidit pernah merasakan pencabutan Bintang Mahaputera Kelas III (Bintang Mahaputra Utama) pada 5 Juli 1966, atau hampir setahun setelah peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965.

Saat tanda kehormatan tersebut dicabut, Aidit diyakini sudah tewas karena diburu Angkatan Darat atas tudingan pembunuhan 6 jenderal pada malam berdarah itu.

Lewat TAP Nomor XXX/MPRS/1966, MPRS yang diketuai Jenderal AH Nasution menyatakan mencabut Bintang Mahaputera Kelas III dari Aidit dengan alasan, "ajaran dan tindakan-tindakannya telah mengkhianati Pancasila dan Revolusi Indonesia."

Padahal, Aidit mendapat penghargaan sipil tertinggi itu langsung dari Presiden Soekarno di Istana Negara pada 19 September 1965, saat dia menjabat sebagai Menteri Koordinator.

Oleh Soekarno, Aidit dinilai telah menjadi teladan sipil, terutama dalam menjalankan politik Nasakom dan telah menunjukkan kesetiaan mendalam dan jasa-jasa luar biasa kepada bangsa dan negara.

Banyak yang menilai Bintang Mahaputra untuk Aidit sebagai tanda semakin mesranya hubungan antara PKI dan sang presiden. Hal ini yang lantas kemudian membuat panas Angkatan Darat, seteru PKI.

Semua tahu, Gerakan 30 September 1965 masih gelap dan tudingan terhadap Aidit sebagai dalangnya semakin tidak berdasar. Namun, Bintang untuk Aidit akhirnya itu harus tercabut, bukan karena dia korupsi, tetapi karena Soekarno, sang pemberi, sudah tak lagi berdaya di senjakala kekuasaannya.

Jika desakan pencabutan Bintang Mahaputra Adipradana untuk Menteri ESDM Jero Wacik dan Menteri Agama Suryadharma Ali, yang terlibat korupsi, terus disuarakan. Sebab, tak pantas tanda kehormatan bangsa tersemat di dada para terduga penggasak uang negara. Lalu bagaimana dengan mereka yang terlibat kasus BANSOS Sulawesi Selatan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar